Artificial Intelligence dan Kesadaran Manusia

Artificial Intelligence dan Kesadaran Manusia

Oleh Putu Lingga

diambil dari newsoffice.mit.edu

diambil dari newsoffice.mit.edu

Pembahasan tulisan ini akan mencoba untuk merefleksikan secara filosofis mengenai peran dari Ilmu atau hasil dari ilmu pengetahuan terhadap hidup manusia. Telah kita tahu bahwa manusia (human) merupakan pusat untuk memepelajari alam. Dan teknologi meruapakan hasil dari metdoe yang dilakukan manusia untuk menjelaskan bahkan memanfaatkan alam. Terutama yang dibahas pada tulisan ini yaitu peranan Artificial Intelligence dalam kesadaran manusia.

Pendekatan Artificial intellegnce

Alan Turing, menguji pendekatannya (Turing Test Approach) dengan bertindak seperti manusia. The turing Test, yang diusulkan oleh Alan Turing (195O), dirancang untuk memberikan yang definisi yang memuaskan atas operasional kecerdasan. bukannya mengusulkan panjang dan mungkin kontroversial daftar kualifikasi yang dibutuhkan kecerdasan, ia menyarankan tes berdasarkan ciri khas dari entitas-manusia yang tidak dapat diragukan sebagai mahkluk cerdas. Komputer melewati tes jika manusia sebagai penanya, mengajukan beberapa pertanyaan tertulis, tidak bisa mengatakan apakah tanggapan tertulis berasal dari seseorang atau tidak. Bab 26 membahas rincian tes dan apakah komputer benar-benar cerdas jika dapat melewati. Untuk saat ini, kami mencatat bahwa pemrograman komputer untuk lulus tes memberikan cukup bekerja. Komputer akan perlu memiliki kemampuan sebagai berikut: (Russell,2003 :3)

  • natural language processing to enable it to communicate successfully in English.
  • knowledge representation to store what it knows or liears;
  • automated reasoning to use the stored inforrnation to answer questions and to draw new conclusions;
  • machine learning to adapt to new circumstances and to detect and extrapolate patterns.

 

Tes Turing sengaja menghindarkan interaksi fisik langsung antara penanya dan komputer, karena simulasi fisik seseorang tidak perlu untuk kecerdasan. Namun, yang disebut Total Turing Uji termasuk menerima sinyal video sehingga interogator dapat menguji kemampuan perseptual subjek, serta kesempatan bagi interogator untuk melewati secara fisik benda “sampai menetas.” Untuk lulus total Turing Test, komputer akan membutuhkan; pandangan komputer untuk melihat benda-benda, dan perlu robotika untuk memanipulasi objek dan bergerak (Russell,2003 :3).

Keenam disiplin menulis sebagian besar AI, dan Turing pantas kredit untuk merancang tes yang tetap relevan 50 tahun kemudian. Namun peneliti AI telah mengabdikan sedikit usaha untuk melewati tes Turing, percaya bahwa itu lebih penting untuk mempelajari prinsip-prinsip yang mendasari kecerdasan daripada menduplikasi sebuah contoh. Pencarian untuk “penerbangan buatan” berhasil ketika Wright bersaudara dan lain-lain berhenti meniru burung dan belajar tentang aerodinamika. Aeronautical teks Mesin tidak menentukan tujuan bidang mereka sebagai membuat “mesin yang terbang sehingga persis seperti merpati bahwa mereka bisa menipu bahkan merpati lainnya. (Russell,2003 :3)

Pendekatan model Koognitif juga dpat dilakukan, diamana berusaha untuk membuat program berfikir seperti manusia, dengan masuk kedalam cara kerja pikiran manusia itu sendiri, misalnya seolah-olah dengan eksperimen psikologis. Bidang interdisipliner ilmu kognitif membawa model komputer bersama-sama dari AI dan teknik eksperimental dari psikologi untuk mencoba membangun teori yang tepat dan dapat diuji dari cara kerja pikiran manusia.

Kecerdasan buatan memiliki beberapa dasar diantaranya filsafat, matematika, ekonomi, ilmu saraf (Neuroscience), Psikologi, Tekhnik komputer, Teori kontrol dan Sibernetika, dan Linguistik (Russell,2003 :5-16).

Kesadaran

Kesadaran dalam KamusBahasaIndonesia.org medefinisikan (1) keinsafan; keadaan mengerti: — akan harga dirinya timbul krn ia diperlakukan secara tidak adil; (2) hal yg dirasakan atau dialami oleh seseorang. Robert Pepperell (2009: 22) menunjukan kesadaran mrujuk pada semua sifat yang kita hubungkan dengan kepekaan manusia seperti pikiran, emosi, memori, kesadaran, pengetahuan-diri,

rasa mengada (sense of being), dan sebagainya.
Analisis

Dengan menyusun ‘neuron-neuron’ elektronik individual dalam jaringan yang kompleks, para ilmuwan computer mampu membangun sistem yang memiliki kemampuan untuk belajar dari pengalaman. Teknik-teknik semacam itu dituntut untuk menyamai, denganh cara sederhana, operasi otak manusia, yang tentu saja dilihat sebagai matriks raksasa dari sel-sel saraf yang saling terhubung. ‘jaringan-jaringan saraf’ ini terdiri dari susunan-susunan ‘neuron’ virtualnya yang diaturn di dalam memori sebuah computer, masing-masing terhubung dengan yang lain, sebagian melakukan kalkulasi dan yang lain menampilkan hasil dari kalkulasi itu. Pada awalnya susunan itu diberi niali random, tapi dengan data input regular sistem itu mulai menstabilkan dan menampilkan output regular yang berkaitan dengan input melalui berbagai cara; demikianlah, sistem itu mempelajari sesuatu. Yang diharapkan oleh para ilmuwan koognitif adalah bahwa melalui pendekatan ini maka akan dimungkinkan untuk mengembangkan computer-komputer cerdas yang bisa berfikir, merasakan, menalar dan belajar dari pengalaman. Inilah pandangan, misalnya, dari prang seperti Marvin Minsky (1986) di MIT dan Igor Aleksander (2001) di Imperial College, London (Pepperell,2009: 12-13)

Pengetahuan komputasioanl yang berkembang, dengan semanagat memandang alam semesta, termasuk memandang manusia itu sendiri. Dengan pengetahuan komputasi manusia menghasilkan teknologi yang dapat membantu pekerjaan manusia dan kadang pula dapat memanjakan manusia.

John Searle dalam esainya tentang Chinese Room, dikutip dari http://id.wikipedia.org. Searle mengajak pembaca untuk “membayangkan bahwa saya terkunci di sebuah ruangan dan … saya tidak bisa bahasa Tionghoa, baik tertulis maupun lisan.” Ia mengasumsikan bahwa ia punya serangkaian peraturan dalam bahasa Inggris yang “memampukan saya untuk mengaitkan serangkaian simbol resmi dengan rangkaian simbol resmi lain” (karakter Tionghoa). Peraturan tersebut memampukannya untuk menanggapi pertanyaan dalam bahasa Tionghoa sehingga orang yang mengajukan pertanyaan tersebut yakin bahwa Searle dapat memahami bahasa Tionghoa juga, meskipun ia sebenarnya tidak. Dari sini, Searle menekankan bahwa jika ada program komputer yang dapat melakukan perbincangan dalam bahasa Tionghoa, komputer tersebut juga sebenarnya tidak memahami perbincangan tersebut.

Banyak filsuf telah mengklaim bahwa mesin yang melewati Uji Turing akan masih belum akan benar-benar berpikir, tapi akan hanya simulasi berpikir. mengutip sebuah pidato oleh Profesor Geoffrey Jefferson (1949) dalam (Russell,2003 :952)

“Not until a machine could write a sonnet or compose a concerto because of thoughts and emotions felt, and not by the chance fall of symbols, could we agree that machine equals brain-that is, not only write it but know that it had written it.”

Beberapa resiko yang akan sering dijumpai akibat dari perkembangan Artificial Intelligence adalah seperti ada buku pegangan pada Etika Computing (Berleur dan Brunnstein, 2001). AI, bagaimanapun, tampaknya menimbulkan beberapa masalah segar di luar itu dalam (Russell,2003 :960):

Orang-orang mungkin kehilangan pekerjaan mereka untuk otomatisasi.
Orang-orang mungkin memiliki terlalu banyak (atau terlalu sedikit) waktu luang.
Orang-orang mungkin kehilangan rasa mereka menjadi unik.
Orang-orang mungkin kehilangan beberapa hak privasi mereka.

Penggunaan sistem AI mungkin mengakibatkan hilangnya akuntabilitas. Keberhasilan AI mungkin berarti akhir dari umat manusia.

Kesadaran manusia, dalam perkembangan artificial intelligence hingga saat ini, belum dapat di pastikan, karena manusia dengan ciri khas sebagai mahkluk hidup tidak dapat di rekayasa kesadarannya walaupaun pada metodenya dan cara ilmiah yang dilakuakn mencoba untuk persis dengan seluruh reaksi manusia. Seperti contoh-contohm dan kritikan yang sudah diberikan diatas mulai dari John Searle hingga Jefferson.

Pustaka

Pepperell, Robert. 2009. The Posthuman Condition (Post Human Kompleksitas Kesadaran, Manusia dan Teknologi diterjemahkan oleh hadi Purwanto). Yogyakarta: Kreasi Wacana

Russell, Stuart J. and Peter Norvig. 2003. Artificial Intelligence A Modern Approach Second Edition. New Jersey : Pearson Education, Inc

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s