Konsep Memayu Hayuning Bawana dalam Kesadaran Menjaga lingkungan

Konsep Memayu Hayuning Bawana dalam Kesadaran Menjaga lingkungan

(Sekedar Bacaan di Sungai Yogyakarta)

 Oleh: Putu Lingga

Sungai Di Indonesia sangat melimpah, dalam kemelimpahannya itu maka akan menjadi anugrah jika dapat mengaturnya sedangkan tak sedikit yang menjadi bencana. Khususnya Di Jawa pada daerah tertentu seperti Yogyakarta, terdapat Sembilan belas sungai yang mengalir. Sungai-sungai yang mengalir di Yogyakarta tergolong jenis sungai periodik, dimana sungai mengalirkan airnya pada musim hujan sedangkan pada musim kemarau aliran akan kecil, bahkan mengering, kalau dapat disebut sebagai sungai musiman. Tidak jarang kita mendengar berita di Yogyakarta, pada musim penghujan terjadi banjir.

Sungai yang melimpah di Yogyakarta, sering tidak dianggap sebagai, ekosistem yang patut dijaga dan dilestarikan sebagai teman untuk hidup. Banyak orang di Indonesia khususnya di Yogyakarta berfikiran bahwa sungai yang melimpah ini hanya sebagai bahan eksploitasi, hanya sebagai pemuas kebutuhan manusia akan air, yang dengan keserakahannya menimbulkan bencana bagi dirinya sendiri.

Yogyakarta sebagai kota kebudayaan dan pendidikan mempunyai waktu yang sibuk untuk melayani para pengunjung dan perantau sehingga sering menghiraukan kesehatan dirinya sendiri. Terdapat banyak pencemaran lingkungan di Yogyakarta, terutama pada pencemaran sungai. Berasal dari limbah rumah tagga yang tidak terkendali, serta menjamurnya hotel-hotel yang mememberikan dampak dengan pembuangan limbah.

Daerah yang dijuluki kota pendidikan ini juga tidak jarang memberikan sebuah solusi terhadap permasalahan lingkungan khususnya sungai, melalui tehknik dan konsep yang sangat menjanjikan, namun belum mampu untuk menumbuhkan kesadaran. Kesadaran akan dirinya terhadap lingkungan akan tumbuh jika seseorang atau kelompok mempunyai pedoman hidupnya. Orang Jawa sebenarnya sejak dulu sudah memiliki pedoman hidup yang dikenal dengan “Memayu hayuning bawana”. Dengan kesadaran, maka teknik dan konsep tidak akan menjadi sia-sia.

Orang jawa memandang konsep Memayu hayuning bawana ini tidak hanya sebagai falsafah hidup namun juga sebagai pekerti yang harus dimiliki setiap orang. Memayu hayuning bawana suatu kesadaran yyang berusaha melindungi keselamatan dunia baik lahir maupun batin. Orang Jawa merasa berkebutuhan untuk memayu hayuning bawana ataumenata dan memperindah tatanan alam semsta. Dalam suatau yang konkret dan spiritual, manusia di arahkan unutk melindungi, memperbaiki lingkungannya baik iutu secara fisikal dan spiritual. Memayu hayuning bawana memberikan dorongan pada tindakan bahwa hidup manusia terlepas dari lingkungan sekitarnya. Orang Jawa khsusnya Yogyakarta bahawa manusia dengan kesadaran sebagai orang jawa hendaknya arif dengan lingkungan, tidak merusak dan berbuat semena-mena.

Sungai yang melimpah Di Yogyakarta, sangat jarang disadari kepentingannya pada keselamatan hidup manusia dan lingkungannya. Dampaknya sebagai kota pariwisata, seperti pencemaran air limbah, sehingga menimbulkan dampak pada sungai mulai meluap dan menggengi rumah warga. Kerena itu perlunya kesadaran bahawa Memayu hayuning bawana disamping adanya usaha untuk menciptakan kosep dan teknik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s